JAKARTA FESTIVAL FILM PELAJAR

Ini pengalaman yang langsung saya alami saya menang dan masuk di lomba JAKARTA FESTIVAL FILM PELAJAR 2009 ini di ikuti seluruh sekolah SMA sedrajat jakarta

Cara Mereset TrialKaspersky 2012 Sehingga dapat Menggunakan Tampa Membayar

informasi sedikit bagi para penggemar antivirus kaspersky memang si anti virus kaspersky itu susah cari yang FREE pasti kebanyakan hanya TRIAL nya ajah tapi wajarlah antivirus sekelas Kaspersky tidak mudah di dapat karena service yang diberikan untuk menjaga komputer

EH PEMUDA MIKIR (PROSA)

suka aneh sama pemuda jaman sekarang udah tau dimana- mana selalu di jelaskan bahwa narkoba itu bikin hidup kalian susah tapi kenapa masih banyak pemuda yang terjerumus ke dunia narkotika buat para pemuda perhatikan pantun ane …

ANTARA DUA PILIHAN CINTA? ATAU CITA-CITA?

Cinta atau kasih sayang mungkin kata ini selalu terdengar di telinga kita dan segala aspek yang ada di dunia selalu menyangkut yang namanya Cinta atau kasih sayang.Mungkin Cinta atau kasih sayang dapat mengingatkan kita pada seseorang yang memilki arti khusus dalam diri atau hidup kita.

PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN ORGANISASI BERBAHAYA”ILUMINATI”

Iluminatus adalah sebuah persaudaraan atau organisasi kuno yang keberdaanya sangat dirahasiakan dan diyakini masih tetap ada sampai sekarang walaupun tidak ada bukti - bukti keberadaan persaudaraan ini sampai saat ini. Para penganut Illuminati disebut Illuminatus. Iluminai di dirikan oleh Adam Weishaupt 1 Mei 1776 M di Ingolstadt (Bavaria Atas) dengan nama Ordo Illuminati.

Friday, July 4, 2014

Resensi Cerpen

Identitas Cerpen

    Judul : Kepada Tiankong, Langit yang Jauh
    Pengarang : Naning Pranoto
    Dimuat : Kompas 12/15/2002
    Sumber : www.sriti.com/story_view

Cara dan Lama Baca

Dalam membaca cerpen Kepada Tiankong, Langit yang Jauh ini, saya membacanya sambil duduk, dan untuk menyelesaikan membaca cerpen ini, saya menghabiskan waktu sekitar tujuh menit.

Sinopsis

Cerpen berjudul Kepada Tiankong, Langit yang Jauh ini bercerita tentang pertemuan secara tidak sengaja antara seorang pemuda asal Indonesia dengan seorang gadis di sebuah pesawat terbang menuju Indonesia. Gadis itu berwajah sangat cantik dengan pakaian yang sangat sesuai ditibuhnya sehingga menarik perhatian setiap orang terutama bagi para laki-laki.

Tanpa diduga, ternyatab gadis itu duduk di samping kursi si Aku (si pemuda). Hal itu membuat jantung Aku berdetak sangat kencang, sehingga ia menjadi gugup dibuatnya. Keberuntungan bagi si Aku pun berlanjut, ternyata gadis itu ramah dan gadis itulah yang memulai pembicaraan diantara mereka.

Setelah pembicaraan berlangsung, ternyata diketahui bahwa gadis itu bernama Peony Wu, ia pergi ke Indonesia untuk mengunjungi Tian-Tiangkong untuk melaksanakan li, yaitu berbakti kepada keluarga. Tetapi tempat tujuan Peony membuat si Aku kebingungan, seumur hidup ia belum pernah mendengar tempat di Indonesia yang bernama Tian-Tiangkong. Untuk mengusir kebingungannya itu, ia pun menanyakannya pada Peony prihal Tian-Tiangkong tersebut.

ernyata Tian-Tiangkong itu berasal dari bahasa Mandarin yang berarti Langit. Tapi, bisa juga dimaknakan Surga atau Langit, Langit Yang Jauh…! Mendengar penjelasan singkat itu, si Aku tetap tidak mengerti maksud sesungguhnya, dan si Aku pun menanyakan kembali mengenai hal tersebut, lalu Peony pun menjelaskannya kembali.

Dahulu Di kota Batu-Malang nenekn Peony lahir, dibesarkan dan menikah serta punya tiga anak. Setelah menikah, ia dagang palawija, di Surabaya. Waktu perang kemederkaan ia menyumbangkan dagangannya untuk dapur umum, memberi makan para pejuang. Itu, karena kecintaannya terhadap Indonesia. Ironisnya, tahun ’62, ia dipulangkan oleh pemerintah Indonesia ke Tiongkok, karena ia tidak mau ganti nama Indonesia. Akhirnya ia terkena PP-10.

Karena PP-10 itu neneknya kembali ke Tiongkok. Karena ia lahir dan besar di Indonesia, maka ia merasa asing terhadap Tiongkok. Keterasingannya itu membuatnya gamang dalam menjalani hidup,di Tiongkok, apalagi ketika Mao Zedong memproklamirkan Revolusi Kebudayaan. Neneknya sempat gila karena disiksa oleh student yang menjadi Red Guard Mao. Itu, gara-gara nenekmya penganut Kong Hu Chu yang taat. Untung, ia bersama sepupunya berhasil melarikan diri ke Macao. Tetapi kedua anaknya hilang. Yang hidup tinggal ibunya yang kemudian menikah dengan orang Portugis

Neneknya meninggal dua bulan yang lalu, usianya 78 tahun. Ketika ia dipulangkan ke Tiongkok, usianya 38 tahun. Jadi, selama 40 tahun ia merindukan Indonesia yang disebutnya sebagai Langit Yang Jauh. Ia menyebut demikian karena untuk ke Indonesia baginya tidak mudah. Ia takut, kedatangannya ditolak pemerintah Indonesia. Maka, ia lalu berpesan, ketika meninggal minta dikremasi dan abunya ditaburkan di Gunung Sriti-Batu. Katanya, tempat itu sangat indah bak surga. Di Gunung Sriti ia punya kenangan manis, bertemu dengan seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya. Sayangnya, suaminya itu tidak mau menyertainya kembali ke Tiongkok. Ia memilih tinggal di Indonesia, mengganti namanya dengan nama Indonesia dan kemudian ia menikahi perempuan Boyolali. Kabarnya, ketika meletus G 30 S PKI, suami nenek Peony dibunuh dengan cara yang keji oleh penduduk setempat, karena ia dituduh PKI! Tapi, bagaimanapun nenek Poeny tetap menganggap Indonesia adalah Tiankong, sebuah Surga dan ia ingin menjadi salah satu penghuninya

Akhirnya si Aku pun mengerti maskud dan tempat Tian-Tiangkong, lalu Poeny pun mengajak si Aku ke Batu-Malang, untuk melaksanakan li bagi neneknya.

Tanggapan

Cerpen ini memang sangat menarik dan memberikan banyak pelajaran bagi para pembacanya. Kita bisa mengetahui keadaan pada saat zaman setelah kemerdekaan dan bagaimana kehidupan yang dialami oleh warga-warga keterununan. Adapun tema cerpen ini adalah mengenai kerinduan.

Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang memang sederhana tetapi syarat akan makna. Para tokohnya pun seperti Aku, Peony Wu, dan nenek digambarkan secara jelas sehingga pembacanya bisa membayangkan bagaimana sosok dari para tokohnya. Aku adalah seorang pemuda biasa yang mudah tertarik pada wanita cantik serta memiliki sifat malu-malu. Poeny Wu digambarkan sebagai sosok wanita yang ramah, modis dan sangat cantik. Sedangkan nenek adalah seorang wanita tangguh, berpendirian dan sangat cinta Indonesia.

Alur dari cerpen ini bersifat mundur karena inti cerita ini adalah mengenai nenek Poeny Wu dan hal itu terjadi pada zaman dahulu, sehingga si penulis menggunakan cara penyampaiannya dengan cara Poeny Wu menceritakan kembali mengenai kehidupan neneknya kepada si Aku (pemuda). Adapun alur lengkapnya adalah sebagai berikut.

    Masuknya Poeny Wu ke dalam pesawat
    Bersebelahannya tempat duduk Poeny Wu dengan si Aku
    Dimulainya pembicaraan diantara kedunya
    Penceritaan mengenai nenk Poeny Wo dari semenjak ia dipulangkan sampai akhirnya meninggal
    Pelaksanaan li bagi neneknya di Batu-Malang

Adapun sudut pandang yang digunakan oleh pengarang ialah sudut pandang orang pertama dimana hal itu cukup bagus, membuat para pembacanya seolah-olah dapat terlibat langsung ke dalam cerita tersebut.Adapun amanat yang dapat saya petik adalah kita harus cinta dan bangga akan tanah air kita Indonesia, seperti yang dirasakam oleh nenek Peony. Karena Indonesia merupakan Negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat indah bagaikan di Tian-Tiangkong

Cerpen ini memang sangat bagus umtuk dibaca oleh semua kalangan karena sangat merik dan mengandung bayak pelajaran yang dapat dipetik darinya.

Tuesday, July 1, 2014

Pemuda yang Bahagia Mati Muda



Soe Hok Gie, 'Si China Kecil' yang bahagia mati muda

Soe Hok gie. kaskus.com 
Hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah...

Sebaris kata di atas adalah kutipan sajak Soe Hok Gie yang berjudul Mandalawangi-Pangrango. Ditulis tahun 1966 dan masih menginspirasi generasi muda hingga kini.

Semangat Soe Hok Gie tak pernah mati. Kematiannya saat mendaki ke puncak Semeru 16 Desember 1969 membuat sosoknya jadi legenda. Saat meninggal usianya 27 tahun kurang sehari. Para sahabat memanggilnya si china kecil.

Soe Hok Gie menjadi simbol pemuda idealis yang menentang kemunafikan dan mereka yang oportunis. Para aktivis yang memilih tetap kritis daripada bermanis-manis kemudian jadi politikus di DPR.

Buku harian Soe Hok Gie dicetak jadi buku berjudul Catatan Seorang Demonstran. Dicetak berulang kali dan jadi bacaan wajib aktivis mahasiswa sampai kini.

Foto Gie dan kata-katanya dicetak jadi stiker, poster dan disablon di kaos-kaos. Dengan bangga orang-orang muda mengenakannya. Di saat orang muda kehilangan sosok pemuda yang bersih, anti korupsi dan cinta tanah air, mereka menemukan sosok itu pada Gie.

Mungkin generasi kini muak dengan politikus muda yang tersangkut korupsi. kesal lihat barisan orang muda penghuni tanahan KPK macam Anas urbaningrum, Nazaruddin, Angelina Sondakh atau mafia pajak Gayus Tambunan yang kelakuannya bikin geleng-geleng. Mereka rindu orang muda bersih yang tak korupsi.

Soe Hok Gie ikut dalam pergerakan tahun 1965 bersama rekan-rekannya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Saat Soekarno tumbang, dia memilih tetap kritis pada pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto.

Tulisan-tulisan Gie yang dikirim ke surat kabar mengkritik kebijakan di awal-awal Orde Baru. Dia melihat kenyataan pahit, teman-temannya sesama aktivis kini merapat pada penguasa. Mereka jadi wakil rakyat di DPRD atau mulai menempati posisi pada birokrasi.

Gie menyindir mereka, dia mengirim bedak dan pupur agar teman-temannya bisa berdandan supaya lebih 'cantik' di depan penguasa. Dia pun dijauhi.

"Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan," Gie menyemangati dirinya.

Soe Hok Gie juga yang pertama mempelopori Mapala FS UI. Dia rajin blusukan ke gunung bersama kawan-kawannya. Menurut Gie, patriotisme tak akan tumbuh hanya dengan mendengarkan pidato.

Dia memang berdarah keturunan Tionghoa, tetapi mungkin lebih nasionalis daripada sebagian besar pribumi.

"Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung."

Soe Hok Gie mati muda seperti keinginannya. Gas beracun dari kawah Mahameru mengakhiri hidup Gie.

Jenazah Soe Hok Gie dibawa dari Puncak Semeru dan dimakamkan di Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Tahun 1975 pemakaman itu akan digusur. Jenazah Gie pun diangkat dan dikremasi. Abunya ditebar di Lembah Mandalawangi Pangrango.

Tuhan mengabulkan keinginannya untuk mati muda.

"Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."


Soekarno Muda

Pada tahun 1917, sebuah Klub Diskusi (Studieclub) di HBS Surabaya menggelar diskusi. Di saat diskusi sedang berlangsung, seorang pemuda berusia 16 tahun meminta kesempatan untuk berbicara. Moderator membolehkan.

Si pemuda tadi, dengan emosi yang menggelora, langsung melompat ke atas meja. Lalu, ia memulai orasi politiknya dengan menggunakan bahasa bumiputera. Moderator langsung menegur, “sudah menjadi aturan di Klub ini untuk berbicara bahasa Belanda yang baik.”

Pemuda itu membantah. “Saya tidak setuju,” katanya. Dia pun membeberkan alasannya: “Tanah kebanggan kita ini dulu bernama Nusantara, yang berarti ribuan pulau. Banyak pulau-pulau ini lebih besar dari negeri Belanda. Jumlah penduduk negeri Belanda hanya segelintir dibandingkan dengan penduduk kita. Bahasa Belanda hanya dipergunakan oleh 6 juta orang….mereka tinggal ribuan kilometer dari sini, mengapa kita harus berbicara bahasa Belanda?”

Diskusi menjadi buyar. Pemuda tadi ngotot menganjurkan agar Klub Diskusi menggunakan bahasa Melayu, bahasa negerinya, bukan bahasa Belanda. “Marilah kita bersatu mengembangkan bahasa Melayu. Kemudian baru menguasai bahasa asing,” tuturnya.

Tingkah laku pemuda itu, juga sikapnya yang ngotot menggunakan bahasa Melayu, segera menjadi pusat perhatian. Direktur HBS Surabaya, Tuan Bot, segera menudingnya sebagai “pencari masalah”. Dan, pemuda itu bernama Soekarno.

Itulah debut politik pertama Soekarno. Kendati demikian, ia sudah lama mengunyah banyak pemikiran politik. Saat itu, sebagai pelajar HBS di Surabaya, Soekarno indekos di rumah HOS Tjokroaminoto, tokoh terkemuka dari pergerakan “Sarekat Islam”. Rumah HOS Tjokroaminoto sering menjadi tempat konsolidasi kaum pergerakan. Tokoh-tokoh pergerakan, seperti Sneevliet (tokoh komunis), Semaun, Musso, dan Alimin, sering bertandang ke sana. Soekarno menyebut rumah HOS Tjokroaminoto sebagai “dapurnya api nasionalisme”.

Selain itu, di waktu senggangnya, Soekarno rajin mengunjungi perpustakaan milik perkumpulan Theosofi. Di sanalah ia mengakrabi bacaan-bacaan mengenai tokoh besar dunia, seperti Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Mazzini, Cavour, Garibaldi, Otto Bauer, Marx, Friedrich Engles, Lenin, Rousseu, Jean Jaures, dan lain-lain.

Persinggungan Soekarno dengan HOS Tjokroaminoto membuatnya dekat dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1921, Soekarno sudah menulis di koran SI: Oetoesan Hindia. Di setiap artikelnya Soekarno menggunakan nama samaran: Bima. Di koran itu Soekarno menulis sekitar 500 artikel dan komenta

Laporan Akhir Minngu Pertama "DATABASE"

Membuat laporan Database Minggi pertama
1. cara membuat table data base dengan nama “dosen”

2. buatlah untuk 10 record

Cara untuk memasukkan record nya :
Insert into dosen values (‘110’,’jaya’,’jl saminten 3’);

3. tambahkan kolom no telp

Cara untuk input kolom no telepon di table dosen :
Alter table dosen add no_telepon varchar (20) ;
4. ubah  kode dosen menjadi not null

5. ubah nama kolom kd_dosen menjadi id_dosen





6. Hapus 5 record terakhir
Logikanya :
Delete from dosen where id_dosen = ‘115’;
Delete from dosen where id_dosen = ‘116’;
Delete from dosen where id_dosen = ‘117’;
Delete from dosen where id_dosen = ‘118’;
Delete from dosen where id_dosen = ‘119’;





7. hapus table dosen
Drop table dosen ;

Bola Bola !!

Siapa yang tidak kenal nama Sepak Bola? Ya, sudah pasti hampir diseluruh penjuru belahan bumi tidak asing lagi dengan Sepak Bola. meski dengan nama yang berbeda-beda, Amerika misalanya (notabene basketball sebagai olah raga populer)  olah raga ini disebut dengan istilah Soccer walaupun pada umumnya lebih dikenal dengan FOOTBALL (mengacu pada induk organisasinya, FIFA).

“Atmosfer dan gairah dalam pertandingan sepak bola sangat berbeda dengan basket. Perbedaan tersebut muncul karena sepak bola layaknya sebuah agama”, Kobe Bryant.

Tidaklah salah juga pernyataan tersebut mengingat betapa fanatik, kreatif dan masivnya para suporter bila mendukung dan membela Tim kesayangannya baik secara langsung (ke Stadion), melalu TV dan yang tak kala terorganisir juga melalui komunitas-komunitas Online (Fanpage). tak terkecuali TIMNAS INDONSEIA.

Perkembangan persepakbolaan dunia dari tahun-ketahun kian maju (semoga di Indonesia juga :D) baik dari segi Infrastruktur, Teknologi, Peraturan (FIFA), dan Strategi. Disini penulis tidak dalam kapasitas untuk mengulas lebih detil perkembangan Infrastruktur, Teknologi, Peraturan (FIFA) dari tahun-ketahun diberbagai Negara-Negara  yang  Sepak Bolanya telah berevolusi menjadi sebuah Industri tapi lebih kepada bagaimana sebuah Strategi itu diciptakan, diberinama dan kemudian mengalami perkembangan (Modifikasi) taktikal, Misalanya:

ITALY dengan Catenaccio

Asal-muasal Taktik ini dipengaruhi dari sebuah sistem/pola permainan yang disebut Verrou (”doorbolt atau rantai” dalam bahasa Perancis) yang diusung oleh Timnas Swiss di Era 1930-an dan 1940-an yang dilatih oleh pelatih berkebangsaan Austria Karl Rappan. Pada tahun 1950, Nereo Rocco mulai merintis sistem ini di Italia saat menangani Padova. Sampai pada dekade 1960-an, Oleh Franco Helenio Herrera (Argentina) pelatih Internazionale Milan dikembangkan lagi menjadi ‘La Grande Inter atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Catenaccio.

Total Football (Belanda) ke Tiki Taka (Spanyol)

Pelatih berkebangsaan Belanda Rinus Michels lah yang “membidani” lahirnya Total Football (DNA dari Tiki Taka) ketika melatih Ajax Amsterdam pada Era 1965–1971 dan Barcelona (1971–1975). Melalui polesan “tangan dingin” Rinus Michels pula, De Oranje (Julukan Timnas Belanda) dibawanya melaju hingga Partai puncak Piala Dunia 1974 di Munich. Ketika itu Johan Cruyff dkk harus harus takluk dari Jerman Barat dengan Skor 2-1. Singkatnya, pada tahun 1988–1996 Johan Cruyff (sebagai Pelatih) kembali membawa gaya Total Football ke Barcelona. Sejak awal bergabungnya hingga Empat tahun masa kepelatihan di Barcelona, dengan Skuad “Dream Team“-nya, Johan Cruyff berhasil memengani supremasi tertinggi kejuaraan antar Klub se-Eropa, Liga Champion 1992 (Pertama bagi Barcelona). Gaya ini terus dikembangkan di bawah pelatih-pelatih asal Belanda lainnya yang pernah menangani Barcelona, Louis van Gaal (1997–2000 dan 2002–2003) Frank Rijkaard (2003–2008) dan dibawah polesan Pep Guardiola (2008–2012), lebih mengukuhkan identitas Tiki Taka itu. Meski istilah Tiki Taka baru tercetus saat Timnas Spanyol berpartisipasi pada gelaran Piala Dunia 2006 tapi tetap saja tidak melunturkan esensinya bahwa Ruhnya adalah Total Football.

Colak-Colek (Indonesia U-19)..?

Dibawah asuhan Indra Sjafri (Pelatih Timnas Indonesia U-19), melihat pola permainan saat mengalahkan Korea Selatan U-19 dengan Skor 1-2, ada sebuah ekspektasi besar terhadap masa depan Timnas U-19 (khususnya) dan Sepak Bola Indonesia (umumnya) untuk lebih berprestasi lg. Pola-pola permainan “kaki ke Kaki/Satu Dua Sentuhan/Colak-Colek “ dengan determinasi tinggi yang diramu Pelatih Indra Sjafri membawa kita pada pola permainan Barcelona. Dengan postur tubuh yang dimiliki orang Indonesia yang rata-rata tidak sebegitu menjulang a.k.a mungil (skala Internasional) dan kecepatan yang dimiliki, Pola permainan “One Two Touch” dan sekali-sekali dikombinasi dengan memanfaatkan kecepatan Sprint akan lebih cocok ketimbang mengandalkan pola lama “Long Passing“.

Dengan mengadopsi pola “Colak-Colek” ( <<TikiTaka << Total Football) bukan tidak mungkin Indonesia bisa menggapai kesuksesan seperti apa yang telah dilakukan Timnas Spanyol dan Barcelona. yang harus dilakukan oleh Timnas Indonesia adalah mencoba. Ya, mencoba, terus mencoba dan mengembangkan pola “Colak-Colek” yang sejauh ini masih sangat efektif. Bukankah Indonesia juga pernah punya Wim Rijsbergen seperti halnya Barcelona dengan Johan Cruyff, yang sama-sama Alumnus Piala Dunia 1974.

saya rasa pelatih (Indar Sjafri) tidak perlu risau dengan berbagai tanggapa bahwa Timnas U-19 mengadopsi Tiki Taka, toh Tiki Taka juga diadopsi dari pendahulunya Total Football.

Dalam Sepak Bola Kreativitaslah yang akan melahirkan sebuah nama, seperti halnya Catenaccio, Tiki Taka dan Total Football.

Salam Jebreeeet..!! Ahaaaayyy..!!  GARUDA DI DADAKU.

Sejarah Indie Movie



Sebuah film independen atau film indie adalah film fitur yang dibuat sebagian besar di luar studio film besar. Istilah ini juga merujuk kepada film seni yang berbeda dari sebagian film yang dipasarkan secara massal.Selain dibuat oleh perusahaan produksi independen, film independen sering dibuat dan/atau didistribusikan oleh anak studio besar. Agar dianggap independen, kurang dari setengah pendanaan film harus berasal dari studio besar. Film independen kadang dapat dengan mudah dibedakan dengan melihat konten dan gayanya yang menggambarkan visi artistik pribadi para pembuat film. Film independen biasanya, namun tidak selalu, dibuat dengan anggaran yang lebih rendah daripada film-film yang dibuat di studio besar. Umumnya, pemasaran film independen dapat dilihat dari rilis terbatas yang dirancang untuk menciptakan kata-kata mulut atau mencapai jumlah penonton khusus yang kecil.

 Akhir decade 1980-an film Indonesia miris di dagelin dengan Sekwilda atau Sekitar wilayah paha dan dada, hanya berisikan tema-tema komedi seks, seks horror, dan full seks dengan tujuan mencapai keuntungan saja. Dengan mutu rendah dan asal jadi dari segi cerita dan sinematografi-nya. Saking buruknya kualitas film, Festival Film Indonesia (FFI) yang digelar sejak 1973 harus dihentikan penyelenggaraannya pada 1994. Saat itu juga impor film Amerika, Mandarin dan India merajai di negeri merah putih ini. Menurut cacatan yang disadur dari Rumah Film, kita menerima 1000 sampai 1200 film asing pertahun melalui bioskop, televise, video compact disk dan download melalui internet. Dari catatan BP2N produksi film nasional berkisar 200 sampai 300 film dalam 10 tahun terakhir di 1980-an. Sangat jauh jika disbanding industry Bollywood yang mampu menembus angka 1000-1500 dalam 10 tahun.

Selama rentang itu pula tema sinema Indonesia tak pernah bergeser dari seks, kekerasan, mistis dan sadisme. Ini cermin kegagapan insane film nasional atas mandeknya kreativitas terpasung aturan main pemerintah. Tak bisa dipungkirin juga ini merupakan cermin selera pasar yang rendah. Namun bukan mutlak pula, karena pasar tidak punya pilihan lain yang disugguhkan oleh sineas yang cerdas kala itu!

Disamping mandeknya industry film Indonesia akibat aturan yang membatasi, malah istilah saya cenderung lebih mematikan itu, monopoli bioskop oleh kelompok bisnis Subentra Group dengan jaringan 21 Cineplex milik Sudwikatmono, hingga memasung film local , serta bomming sinetron model opera sabun yang ditayangkan TV swasta awal 1990-an terbukti lebih populer dibanding film yang digarap sineas negeri ini.

WARNA dan semangat baru film Indonesia justru muncul saat kelesuan hampir mencapai titik nadir, dibawa seorang anak muda lulusan Institut Kesenian Jakarta(IKJ) tahun 1996. Ia Garin Nugroho, yang gelisah atas kondisi tak bermutunya film Indonesia. Berbekal idealisme dan intuisi yang cerdas, Garin Nugroho mampu menbaca kebutuhan apresiapsi masyarakat akan film nasional dengan baik.

Garin muncul membawa angin perubahan. Dengan mengusung tema yang realis dan kemampuan visualisasi yang artistic, film-film produksi Garin mampu memukau penonton yang tengah dilanda dahaga apresiasi. Jika dihitung (mohon dikoreksi jika salah), dari awal decade 1990-an hanya film Garin Nugroho yang dinilai mampu bertahan dengan idealisme dan pasar tersendiri. Debutnya dalam Cinta Sepotong Roti (1991), bikin banyak kalangan tercengang. Caranya bertutur tentang kehidupan rumah tangga, problem social hingga perbincangan tentang seks, terkesan elegan dan tak biasa. Film ini menyabet piala citra dalam FFI 1991 sebagai film terbaik.

Kemudian, berturut-turut Garin menyutradarai Surat Untuk Bidadari (1994), Bulan Tertusuk Ilalang (1995), Daun Di Atas Bantal (1998), Puisi Tak Terkuburkan (1999), Rembulan Di Ujung Dahan (2002) hingga puluhan Serial Anak Seribu Pulau (1995) dan Pustaka Anak Nusantara (2001), dua terakhir ini didedikasikan untuk tayangan di televise hingga mewarnai acara hiburan media kaca yang cerdas serta apik untuk ditoton pemirsa di negeri ini.

GARIN boleh saja jadi ikon, tapi pelatuk yang meledakkan genre sinema independen tetap dipegang Kuldesak (1998) film bikinan sekelompok anak muda yang tergabung dalam komunitas Days For Night Films. Mereka, Mira Lesmana, Riri Riza, Nan Triveni Achnas dan Rizal Mantovani. Kecuali Rizal, anak-anak muda lulusan sekolah film IKJ ini ter-obsesi untuk produksi film sendiri. Sebelumnya mereka hanya dikenal sebagai seniman yang memproduksi , film pendek untuk kebutuhan study dan sekali-sekali buat iklan layanan masyarakat dan video klip.


Mulanya Kuldesak dikerjakan tahun 1996 dengan mengunakan alat produksi Video Digital yang dipinjam dan sewa sana-sini, dimana peraturan pemerintah masih sangat ketat. Paling repot, diantara seabrek persyaratan tak satupun dari mereka yang pernah jadi Astrada sampai empat kali. Pokoknya Kuldesak butuh 2,5 tahun, sampai 1998 baru tayang di bioskop. Awalnya Mira sempat prustasi. Tapi bagaimanapun rencana tetap jalan, demikian kisah mereka yang dikutip dari Rumah Film.


Secara bisnis Kuldesak memang tak sukses, tapi sejarah mencatat gebrakan mereka. Kuldesak kemudian jadi ikon gerakan film indipenden Indonesia. Film khas kehidupan anak muda metropolitas, sarat konflik dan penyelesaian yang tak biasa dan tak terkesan menggurui.


Sebagai pemicu, Kuldesak layak dibenarkan. Namun semangat filmmaker independen sebenarnya sudah mewabah ke pelosok negeri di era yang sama. Salah satu prestasi awal yang dicapai Independen Indonesia adalah ketika film pendek Gotot Prakosa diundang untuk diputar di Oberhausen Film Festival, Jerman, sebuah festival film pendek tertua dan paling bergengsi di dunia.Walau komunitas film di dekade 80 dan awal 90-an tidak sebanyak sekarang, namun dengan keterbukaan peluang untuk berkarya, gerakan-gerakan yang sifatnya lebih individual dan tertutup mulai berkembang di Indonesia, terutama di Jakarta.


Film Kuldesak, dengan gebrakan tema, budget produksi dan medium yang digunakannya, bersama dengan “Sinema Gerilya” SGA, tidak bisa dipungkiri memulai babak baru dalam sinema independen Indonesia. Bermula dari itu, perlahan-lahan tumbuh komunitas film di Indonesia, sebagian memfokuskan diri hanya pada apresiasi, sebagian lainnya langsung terjun ke dunia praktek dengan memproduksi film-film pendek, dokumenter, maupun feature film. Berbagai festival film independen diberbagai kota kerap dilakukan. Tercatat yang setiap tahunya digelar adalah, Festifal Film Konfiden Jakarta, Festival Film Dokumenter (FFD) Jogyakarta, JIFESt, J-Festival Jember, Kawanusa Bali, Festival Film Bandung (FFB), Festival Film Anak (FFA) Medan, serta beragam festival dan kompetisi film indie lainnya.


Persoalan istilah berikut perkembangan generasi baru film Indonesia
mendapat perhatian serius dari Katinka van Heeren, peneliti pada
Indonesian Mediations Research Project dari Unversitas Leiden Belanda
dalam papernya di International Institue for Asian Studies Newsletter
edisi Agustus 2002.
Ia menulis, "Yang mendorong gerakan ini bukan hanya karena kebetulan
belaka akibat iklim politik pada masa reformasi, tapi lebih penting
lagi, juga berdasar pada ketersediaan media audio visual baru untuk
merekam dan memutar film. Satu elemen dari gerakan film baru
berangkat dari istilah independen atau film independen, yang telah
jadi model dan semboyan bagi banyak anak muda Indonesia untuk membuat
film mereka sendiri."

SOAL istilah dan kriteria memang pelik. Beragam perdebatan saling-silang, berebut kebenaran dalam mendedah definisi dan karakteristik film independen. Sebelum itu, ada baiknya kita sedikit menengok sejarah film independen di kampung asalnya, Amerika. Semangat awalnya mula-mula karena kejenuhan John Cassavettes, filmmaker yang terpengaruh gerakan film di Perancis paruh 1950 hingga 1960-an. Kebosanan Cassavettes atas tema-tema film Hollywood yang kerap mengedepankan populisme, patriotisme, drama romantik dan kekerasan diwujudkan dalam film pertamanya yang kontroversial,
Shadows (1962).


Sosok Cassavettes, oleh Greg Merritt dalam bukunya Celluloid Mavericks, A History Of American Independent Film (2000), digambarkan sangat inovatif. Merritt menyebut Cassavettes seorang inovator, yang
menggunakan teknologi secara benar, tak menggunakan aktor profesional, dan sarat improvisasi. Kritikus film percaya Cassavette sedang memberontak pada Hollywood. Ia dianggap benar-benar menumbuhkan semangat independen.


Satu lagi pelopor indies film, Dennis Hopper, sutradara Easy Rider (1969), yang dibintangi antara lain Peter Fonda, yang berhasil meraup US$ 19 juta. Sejak itu, indies film, istilah film indie di Amerika, tak lagi dipandang sebelah mata. Mau tak mau, Hollywood akhirnya berpaling pada bakat-bakat, tema-tema dan cara pembuatan film yang tak lazim dalam sejarah industri Amerika. Di antara nama-nama besar di era 1980 hingga 1990-an seperti Steven Soderbergh (Sex, Lies and Videotape, 1989), Bob Goldthwait (Shakes The Clown, 1991) dan Peter Jackson (Bad Taste, 1987). Ada dua orang nama yang dianggap paling berpengaruh. Kritikus film menyebut mereka "Legendary Hero Of The 90s". Dua orang berbeda, namun satu
karakter, yakni Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez. Mereka berusia muda, bukan lulusan sekolah film, dan nekat.


Tarantino muda hanyalah seorang penjaga kios video. Pengetahuan dan karakter filmnya dapat dijejaki dari caranya menghafal 2000 judul film lengkap dengan adegan-adegann menariknya. Kelak, kemampuannya
menulis skenario ditentukan dari sini. Debutnya lewat Reservoir Dogs (1992) membelalakkan mata para Hollywooders, yang tak menyangka bakal kedatangan film drama genre baru. Orang-orang yang membuat film diluar kemapanan industri film Holiwood kini malah jadi bagian di dalamnya dan malah menambah warna baru.

Enam Film Menginspirasi


Biasanya seseorang dalam menjalankan kehidupannya memiliki pegangan hidup yg dapat dijadikan sebuah motivator atau pembangkit semangat seperti saat seseorang itu sedang stress atau sedang terpuruk dalam kesedihan dsb.

Nah disini ada beberapa film yg sekiranya bagus buat dijadikan inspirasi dalam menjalani hidup dan juga bisa dijadikan koleksi

1. Hachi-ko (1987)

Sutradara: Seijirô Kôyama
Pemain: Kaoru Yachigusa, Mako Ishino and Masumi Harukawa

Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya. Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun.

2.Forrest Gump (1994)

Sutradara: Robert Zemeckis
Pemain: Tom Hanks, Robin Wright and Gary Sinise

Forrest, Forrest Gump adalah orang sederhana dengan pikiran agak terbelakang tapi mempunyai niat baik. Sejak kecil dia berjuang dengan ditemani sahabatnya yaitu Jenny. Ibu Forrest mengajarinya cara hidup dan harus memilih takdirnya. Forrest bergabung dengan tentara untuk berperang di Vietnam, menemukan teman-teman baru bernama Dan dan Bubba, ia memenangkan medali, mulai sebuah kegemaran tenis meja, menciptakan armada penangkapan ikan udang, menginspirasi orang untuk jogging, menulis stiker dan lagu, menyumbangkan kepada orang-orang penghasilannya dan menghadiri pertemuan presiden beberapa kali. Namun, itu semua tidak sejalan dengan Forrest yang hanya dapat memikirkan peerasaanya pada Jenny. Siapa yang telah mengacaukan hidupnya. Meskipun akhirnya dia hanya ingin membuktikan bahwa setiap orang dapat mencintai seseorang

3. Goodwill Hunting (1997)

Sutradara: Gus Van Sant
Pemain: Robin Williams, Matt Damon and Ben Affleck

Seorang petugas kebersihan di MIT, Will Hunting memiliki kecerdasan untuk matematika dan kimia yang bisa memberinya kemudahan dalam hidup, tetapi dia tidak menyadari potensi yang dimilikinya dan bahkan tidak bisa membayangkan telah meninggalkan masa kecilnya lingkungan Boston Selatan, pekerjaan konstruksi nya, atau sahabatnya. Masalah mulai muncul, ketika beberapa orang asing muncul dalam hidupnya, seorang profesor matematika brilian yang iri dengan kemampuan Will dan, mahasiswi cantik yang menunjukkan cinta kepadanya.

4. The Patriot (2000)

Sutradara: Roland Emmerich
Pemain: Mel Gibson, Heath Ledger and Joely Richardson

1776 di daerah kolonial Carolina Selatan. Benjamin Martin, seorang pahlawan perang Perancis-India yang dihantui oleh masa lalu, sekarang hidup damai di sebuah perkebunan kecil, dan tidak menginginkan bagian apapun dari perang dengan bangsa yang paling kuat di dunia, Inggris. Sementara itu, anak tertua kedua, Gabriel dan Thomas, tidak bisa menunggu untuk bergabung dengan organisasi yang baru terbentuk "Continental Army." Ketika Carolina selatan memutuskan untuk bergabung dengan pemberontakan melawan Inggris, Gabriel segera mendaftar untuk memerangi meskipun tanpa izin dari ayahnya. Tapi ketika Kolonel William Tavington dari Inggris yang terkenal brutal, datang dan membakar Perkebunan Martin. Benjamin harus segera memilih antara melindungi keluarganya, dan membalas dendam bersama dengan menjadi bagian dari kelahiran sebuah bangsa baru,

5. Beatifull Mind (2001)

Sutradara: Ron Howard
Pemain: Russell Crowe, Ed Harris and Jennifer Connelly

biografi mengenai matematikawan terkenal John Nash dan perjuangan selama hidup nya . Nash terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana di Princeton pada tahun 1948. Ia mengabdikan dirinya untuk menemukan sesuatu yang unik, sebuah teorema matematika yang benar-benar asli. Ia sangat tekun dan sebagian dari waktunya dia pergi keluar untuk minum dengan siswa lain, ia menghabiskan banyak waktu dengan teman sekamarnya, Charles, yang akhirnya menjadi sahabatnya. John akan segera menjadi seorang profesor di MIT di mana ia bertemu dan akhirnya menikah dengan seorang mahasiswa pascasarjana, Alicia. Seiring waktu berlalu John mulai kehilangan pegangan tentang realitas, akhirnya dia didiagnosis menderita skizofrenia. Untuk mendalami dunia imajinernya, Nash menarik diri dari masyarakat

6. Way Home (2002)

Sutradara: Jeong-hyang Lee
Pemain: Seung-ho Yu, Eul-boon Kim and Hyo-hee Dong

Seorang anak berusia tujuh tahun Sang -woo yang terpaksa tinggal dengan neneknya di sebuah desa terpencil sementara ibunya mencari pekerjaan. Lahir dan dibesarkan di kota, Sang-woo masuk ke dalam konflik dengan neneknya yang kuno dan lingkungan pedesaan barunya. Tidak menghormati dan egois, Sang-woo merasa kesal atas semua yang telah ditinggalkan. Dia menjual satu- satunya harta neneknya untuk permainan video. Ketika Ibu Sang-woo's menemukan kembali pekerjaan dan akhirnya datang untuk menjemput dia, Sang-woo telah menjadi seorang anak yang berbeda. Melalui kesabaran dan pengabdian tak terbatas neneknya, ia belajar untuk menerima empati, kerendahan hati dan pentingnya keluarga